Selainitu, warga LDII juga ngejot di lingkungan rumah masing-masing. Daging yang dibagikan ada yang sudah masak berupa gulai kambing maupun daging mentah. "Program LDII ngejot ini merupakan praktik kami menjaga rasa persaudaraan atau dalam bahasa Balinya manyama braya," ujar Imam Kambali, Wakil Ketua DPD LDII Tabanan, Minggu (10/7
KETIKA Umar bin Khattab ra. memberi wasiat kepada pasukan Islam yang akan berjihad, beliau berkata, “Janganlah kalian berbuat maksiat kepada Allah sedang kalian di jalan Allah”. Pesan ini mengisyaratkan kepada kita bahwa para da’i yang sedang berdakwah bisa jadi berbuat maksiat kepada Allah. Barangkali penyakit inilah yang harus kita waspadai bersama, bermaksiat di jalan dakwah. Dan dalam pergerakan dakwah modern, para pemimpin dakwah juga sering mengingatkan akan bahaya berbagai macam penyimpangan di jalan dakwah. Musthafa Masyhur adalah pemimpin gerakan dakwah yang sering mengingatkan akan berbagai macam penyimpangan di jalan dakwah. Buku beliau yang banyak mengulas tentang masalah ini adalah Prinsip dan Penyimpangan di jalan di Dakwah’. Fathi Yakan juga meworning para aktifis dakwah dalam bukunya Aids dalam Harakah’ dan Yang Berjatuhan di Jalan Dakwah’. Namun demikian, para da’i adalah manusia yang tetap memiliki potensi lupa dan salah, sehingga upaya untuk saling mengingatkan harus terus dilakukan. BACA JUGA Begini Tahapan Dakwah Rasulullah di Makkah Di antara berbagai Penyakit di Jalan Dakwah yang harus diwaspadai bersama oleh para da’i adalah 1 Juz’iyah Tidak Syamilah Penyakit Juzi’yah atau parsial dalam dakwah bersumber dari pemahaman Islam yang tidak syamil atau integral. Pemahaman seperti inilah yang pada gilirannya mengakibatkan pola hidup sekuler. Islam hanya dilihat dari satu aspek saja. Sampai sekarang masih banyak dari umat Islam yang memandang Islam hanya mengatur urusan privat saja. Sedangkan urusan public diserahkan kepada negara. Sementara negara masih menganut sistem sekuler. Pola hidup sekuler masih mendominasi mayoritas umat Islam. Mereka memandang bahwa Islam di satu sisi sementara negara disisi yang lain. Realitas ini mengakibatkan pola hidup yang sangat kontradiktif. Kita sering menyaksikan sebagian umat Islam yang ditokohkan oleh masyarakat tidak memberikan keteladanan yang baik. Dalam kehidupan ritual kelihatannya menjadi orang yang paling shalih, tetapi dalam kehidupan keluarga, sangat terbuka dan membiarkan istri dan anak-anaknya yang perempuan tidak menutup aurat. Dalam ekonomi masih bergumul dengan riba dan dalam kehidupan politik menjadi orang yang suka korupsi dan money politik. Begitu juga sebagian da’i dan mubaligh masih memahami Islam dengan pemahaman parsial, sehingga apa yang didakwahkannya tidak lebih dari apa yang dipahami bahkan cenderung kurang dan lebih buruk. Sikap juz’iyah dan tidak syamilah akan menyebabkan dakwah Islam terpecah-pecah dan sering terjadi perselisihan diantara berbagai gerakan dakwah. Dalam tataran praktis, gerakan dakwah terkadang juga terjebak pada salah satu fokus dakwah dan agak melalaikan aspek yang lain. Politik misalnya, tentu saja ini bagian dari aspek yang harus dimasuki gerakan dakwah. Pada saat yang sama juga tidak melupakan aspek-aspek lainnya, seperti tarbiyah yang sudah menjadi jatidri gerakan dakwah. Tarbiyah di kampus dan sekolah, tarbiyah di masyarakat, menjadikan masjid sebagai pusat dakwah dan tarbiyah dll. Aspek lain yang harus menjadi perhatian gerakan dakwah adalah perbaikan ekonomi kader. Ketika kita mendapatkan bukti kesenjangan antar kader, mayoritas kader yang masih berada dibawah standar, mereka hidup di rumah-rumah kontrakan yang sempit dan tidak sehat sementara sebagian kecil kader bergelimangan dengan kemewahan, maka ini harus segera diselesaikan, karena pasti ada yang salah. BACA JUGA Jangan Bersedih Jika Dakwahmu Belum Diterima… 2 Madiyah Tidak Rabbaniyah Dan di antara penyakit di jalan dakwah yang berbahaya sekarang adalah itijjah madiyah orientasi materi. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau dan sesungguhnya Allah akan menitipkan padamu, maka akan melihat apa yang kamu lakukan. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan wanita, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil terjadi pada wanita” HR Muslim Kita sedang menghadapi masalah di sini, kita sudah agak menjauhi dari sikap rabbaniyah dan mulai mendekat ke sikap madiyah. Pembicaraan- pembicaraan yang berkembang dikalangan sebagian kader sudah kental dengan nuansa materinya, seperti, kita dapat apa dari dakwah ini? Mobilnya merek apa? Sudah nambah istri belum? HP merek apa? Bisnis apa yang kita garap? Proyek apa yang sedang kita ajukan? dll. Sedangkan pembicaraan yang terkait dengan nilai-nilai rabbaniyah sudah semakin sayup-sayup terdengarnya. Pembicaraan seperti, kamu sudah hapal berapa juz? Anak kita sudah ada yang hafal al-Qur’an belum? Kamu memiliki berapa halaqoh? Bagaimana shalat lima waktu kita? Kapan kita mengadakan dauroh? dll sudah hampir lenyap dalam pembicaraan kader dakwah. Kita sudah mulai akrab dengan hotel, tetapi agak menjauh dengan masjid. Kita sudah hobi berkunjung ke para pejabat, tetapi sudah mulai jarang bermajelis dengan orang-orang shalih dan para ulama. Kita senang dengan qusyur istana dan rumah yang megah dan melupakan kubur. Gaya hidup kita sudah ada yang berubah, ukhuwah kita sudah mulai kering dan bermasalah. Dan ini adalah musibah. “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang Telah turun kepada mereka, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya Telah diturunkan Al Kitab kepadanya, Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik” QS Al-Hadid 16. Sikap rabbaniyah lahir dari proses tarbiyah yang matang terutama tarbiyah ruhiyah. Dari tarbiyah inilah kualitas kader dakwah teruji. Di masa Rasulullah SAW para sahabat yang teguh dalam seluruh dinamika dakwah adalah para sahabat senior yang tertempa oleh tarbiyah Rasulullah SAW dalam waktu cukup lama. Mereka dibina oleh Rasulullah saw di Mekkah selama 13 tahun, dan selanjutnya mereka mengikuti dakwah Rasul saw dengan setia sampai beliau wafat. Mereka disebut Assabiqunal Awwalun Generasi Awwal dari Muahjirin dan Anshar. Sedangkan para sahabat yang masuk Islam setelah Futuh Makkah, mereka inilah yang kemudian melahirkan dinasti Bani Umayah yang membangun politiknya dengan sistem kerajaan dan sarat dengan nilai-nilai madiyah dan menjauh dari nilai-nilai Rabbaniyah. Kemenangan gerakan dakwah ketika tetap konsisten dengan nilai-nilai rabbaniyah. Rasulullah saw. bersabda, “Zuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Dan zuhud kamu terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu” HR Ibnu Majah. Keikhlasan, pengorbanan, militansi dan perjuangan para kader tidak dapat diukur dan dinilai dengan harta. Realitas inilah yang harus menjadi perhatian para qiyadah dakwah, agar mereka juga tetap menjaga nilai-nilai rabbaniyah untuk bersama-sama membangun izzatul Islam wal muslimin yang lebih cerah lagi di masa yang akan datang. Materi itu memang dibutuhkan dalam dakwah, tetapi materi itu bukan segala-galanya. Oleh karenannya materi jangan dijadikan orientasi dalam dakwah. Rasulullah SAW bersabda,” Demi Allah ! Bukanlah kefakiran yang aku takutkan pada kalian. Tapi aku takut, dibukakannya dunia untuk kalian, sebagaimana telah dibukakan pada umat terdahulu. Maka kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba, dan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan orang sebelum kalian” Muttafaqun alaihi. BACA JUGA Siapa yang Membantu Dakwah Rasulullah Setelah Khadijah Wafat? Gerakan dakwah dan aktifis dakwah harus tetap berada pada jalur yang benar, yaitu sikap robbaniyah. 3 Wijahiyah Tidak Manhajiyah Dulu kita sering mendapatkan taujih tentang keharusan untuk tidak bersikap wijahiyah figuritas dalam dakwah dan tetap komitmen pada manhaj dakwah. Dan ini adalah taujih yang benar. Tetapi sekarang kita melihat fenomena figuritas dalam dakwah, dan ini adalah bagian dari penyakit di jalan dakwah. Kita mencintai para qiyadah dakwah dan kita akan tetap taat pada qiyadah dakwah. Pada saat yang sama qiyadah dakwah kita adalah qiyadah jama’iyah. Figuritas sering muncul di masyarakat tradisional yang kurang pemahamannya dalam Islam. Tetapi jika figuritas muncul juga dalam masyarakat modern dan gerakan dakwah modern, berarti ada yang salah. Figuritas juga sering muncul karena lemahnya keikhlasan dan ada motivasi di balik sikap figuritas tersebut. Biasanya motivasi kepentingan sesaat yang bersifat materi atau kekuasaan. Figuritas adalah penyakit di jalan dakwah yang berbahaya. Dakwah tidak boleh bertumpu pada figur-figur tertentu, tetapi harus membangung sistem atau manhaj yang kuat. Ketika benih-benih figuritas muncul dalam gerakan dakwah, maka terapinya harus kembali pada manhaj dakwah yang benar. Kita harus sering mengkaji Al-Qur’an dan sunnah. Kita juga harus sering membaca kitab-kitab salafu shalih. Kita juga harus kembali membuka buku-buku manhaj standar, seperti Majmu’ah Rasail karya imam Hasan Al-Banna dan kitab Fiqhud Da’wah karya Musthafa Masyhur. Dan memang, kita harus kembali pada manhaj dakwah yang benar. 4 Afawiyah Tidak Takhtitiyah Afawiyah artinya asal-asalan sedangkan takhtithiyah artinya dengan perencanaan. Dakwah yang benar harus selalu menggunakan perencanaan. Gerakan dakwah sudah besar dan berskala nasional. Segala keputusan akan berdampak nasional. Ketika keputusan tanpa melalui perencanaan yang matang dan kajian yang teliti, maka akan berdampak buruk bagi dakwah, qiyadah dakwah dan kadernya. Perencanaan dan kajian ilmiyah sudah menjadi keniscayaan agar melahirkan sistem yang kuat dan keputusan yang akurat. BACA JUGA Perjalanan Mengantar Sang Mujahid Dakwah Ketika sebuah kebijakan strategis diputuskan hanya dalam satu pertemuan yang memakan waktu beberapa jam saja dan sebelumnya tidak dilengkapi kajian ilmiyah, perencanaan yang matang, maka keputusannyapun tidak matang. Kondisi seperti ini akan membahayakan perjalanan gerakan dakwah. Lebih berbahaya lagi jika keputusan tersebut terkait dengan nama-nama orang yang akan dipromosikan untuk suatu amanah, baik dari internal maupun eksternal. Gerakan dakwah harus sudah memiliki semacam Sistem Manajemen Gerakan Dakwah. Sistem ini dilaksanakan dan mengikat bagi seluruh kader dakwah, lebih-lebih qiyadah dakwah. Sehingga segala sesuatunya berjalan sesuai dengan sistem bukan subyektif sesuai keinginan orang-perorangan. 5 Istibdadiyah Tidak Syuriyah Istibdadiyah adalah sistem dan sikap yang cenderung bersifat otoriter sedangkan syuriyah adalah sistem dan sikap yang senantiasa menghidupkan nilai-nilai syura. Orang-orang yang berkuasa memang memiliki karakteristik otoriter, apalagi kekuasaan itu dikendalikannya sudah terlalu lama. Satu-satunya syarat agar para pemimpin tidak bersifat otoriter yaitu pola hidup rabbaniyah. Artinya dia selalu cenderung kepada Allah, senantiasa beribadah kepada Allah dan memiliki keimanan yang kuat pada Allah dan hari akhir. Para Khulafaur Rasyidin adalah contoh pemimpin yang memiliki sikap rabbaniyah. Oleh karena itu walaupun mereka memimpin sampai akhir hayatnya tetapi mereka tetap istiqomah dalam Islam terutama dalam sikap zuhud terhadap dunia. Sementara para pemimpin dari Bani Ummayah kecuali Umar bin Abdul Aziz, karena menjauh dari sikap rabbaniyah sehingga mereka merubah sistem pemerintahannya menjadi kerajaan yang cenderung otoriter dan mencintai dunia. Para pemimpin yang memiliki sikap rabbaniyah inilah yang senantiasa menghidupakan syura dan tidak otoriter. Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam masalah syura ini. Beliau adalah orang yang paling banyak mengajak musyawarah dengan para sahabatnya untuk hal-hal yang tidak ada nash-nya. BACA JUGA Nabi Harun AS, Saudara Setia dalam Dakwah Hal ini dilakukan oleh Rasulullah saw. untuk menegakkan sistem Islam, khusunya dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Al-Qur’an telah memberikan arahan yang sangat baik tentang pentingnya syura, adab syura dan komitmen dengan hasil-hasil syura. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” QS Ali Imraan 159. Dakwah akan tetap berjalan dengan kita atau tanpa kita. Dan penyakit dakwah itu mungkin akan terus menimpa sebagian kader-kader dakwah sesuai dengan sunatullah-Nya, yang akan tetap dijaga oleh Allah adalah manhaj. Oleh karena itu marilah kita tetap istiqomah dengan manhaj Islam dan jalan dakwah yang penuh berkah ini. Wallahu alam. [] SUMBER MAJASLAH SAKSI/JAKARTA sandakwah dalam al-Q ur'an. B eberapa bent uk pesan da k- wah antara lai n, ayat - ayat al - Q ur' an, hadis nabi M uhammad Saw. , penda p at para ul ama, hasil penel itian, k isah - ki sah, Sebenarnya dakwah Islam tidak pernah berhenti, namun barangkali ia tidak efektif dalam melakukan perubahan. Bahkan kadang yang terjadi justru hasilnya malah kontraproduktif dengan dakwah itu sendiri. Mengapa bisa terjadi? Muasal masalah tersebut sesungguhnya bersumber pada sikap individu pelaku dakwah. Penyakit ini lantas menjadi sebuah sikap. Sikap dan pendirian ini kemudian mempengaruhi maknawiyah [mental] dan aktifitasnya. Lemahnya ma’nawiyah dalam dakwah. Efek mental akibat sikap infirodi [individu] dalam dakwah dapat dilihat dari gejala-gejala berikut Emosional dalam menghadapi keadaan hingga berlaku serampangan Figuritas bahkan kultus hingga menimbulkan diktatorisme dalam dakwah Superioritas [merasa paling hebat] yang menyebabkan egoisme Meremehkan orang lain hingga ia menyempal dan memecah-belah umat Lemahnya aktivitas dalam dakwah akibat sifap infirodi dalam dakwah dapat dilihat dari gejala-gejala berikut Improvisasi yang asal-asalan. Dakwah yang dilakukan secara spontanitas demikian tidak dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Parsial [sebagian-sebagian] dalam melakukan perbaikan sehingga yang terjadi justru kontradiksi dan pertentangan. Tradisional dan konserfatif hingga meninbulkan kedangkalan argumen dan wawasan Perbaikan yang dilakukan bersifat tambal sulam. Hal ini disebabkan berbagai keterbatasan yang ada pada individu. Betapapun hebatnya, sebagai manusia maka seorang dai tidak luput dari kekurangan. Baik aspek kemampuan maupun usia. Dakwah tambal sulam yang demikian tidak akan membuahkan hasil. Energinya habis percuma karena belum selesai perbaikan pasa suatu sisi, kekurangan terjadi di tempat lain. Belum selesai perbaikan pada bagian kedua, bagian pertama yang kemarin sudah mulai usang. Terapi penyakit umat. Penyakit dakwah yang sangat berbahaya ini hanya dapat disembuhkan dengan amal jama’i. Namun banyak orang tidak siap untuk melakukan amal jama’i selama penyakit individualistis yang menjangkiti dirinya belum terobati. Pengobatan terhadap penyakit jiwa ini dapat dilakukan dengan Penyadaran bahwa sikapnya itu berbahaya bagi diri dan dakwah. Ia tidak dapat memberikan kontribusi maksimal Meluruskan orientasi dakwahnya untuk Islam, bukan untuk kepentingan individu, keluarga maupun golongan Tawadlu [rendah hati]. Hanya Allah saja yang pantas menyandang sifat takabur karena Allah Mahahebat. Objektifitas dalam menilai diri, orang lain, maupun realitas umat. Kesadaran akan pentingnya manhaj dalam dakwah. Kesadaran untuk melakukan dakwah secara integral dan menyeluruh Modernisasi metodologi dakwah dan tidak konservatif, hingga umat tercerahkan. Perubahan secara total, hingga umat tersadarkan fikiran, semangat dan aktivitasnya. Dakwah yang merupakan proyek besar dan berat ini tidak mungkin dilakukan secara individual. Sebab tiap-tiap diri pasti tidak bebas dari kekurangan. Namun, betapapun kecil dan terbatasnya individu, dakwah akan menjadi besar dan kuat dalam amal jama’i. Navigasi tulisan Buku Panduan Menuju Muslim Kaaffah Banyakpengalaman kehidupan yang dirasakan oleh Buya Hamka tertuang dalam tafsirnya ini. Selain itu, dalam hal pemikiran yang tertuang di tafsirnya ini, Buya Hamka sangat terpengaruh oleh Gerakan pencerahan keislaman Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Hal ini bisa dilihat daru tafsirnya.
This research discussed the conversion of Jama'ah Tabligh Bantarkawung, Brebes, Central Java, and its effects on the spread of Covid-19. In this case, the phenomenon of Jama'ah Tabligh's preaching activity produced a wide variety of reactions. The methods employed in this study combines field research with literature. The results in this paper are; first, the practice of Jama 'ah Tabligh preaching at Bantarkawung that attended the Ijma' Ulama' Jamaah Tabligh at Gowa during the Covid-19 pandemic. Second, there is a say that there is no contagious disease, if it is contagious, then it must be transmitted by God's will. Third, the approximately 27 person of Jama'ah Tabligh Bantarkawung who attended Ijtima Ulama' Gowa, 17 person were positively Covid-19 proved by rapid test. Then, 13 person tested positive for swab tests that made their home area become Covid-19 red zone. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free JURNAL LIVING HADIS, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 5, Nomor 1, Mei 2020; hal 151-170 0852 2843 8068 jurnallivinghadis TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR PRAKTIK DAKWAH JAMA’AH TABLIGH DAN PENGARUHNYA TERHADAP PENYEBARAN COVID-19 DOI Inayatul Mustautina UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abstract This research discussed the conversion of Jama 'ah Tabligh Bantarkawung, Brebes, Central Java, and its effects on the spread of Covid-19. In this case, the phenomenon of Jama 'ah Tabligh's preaching activity produced a wide variety of reactions. The methods employed in this study combines field research with literature. The results in this paper are; first, the practice of Jama 'ah Tabligh preaching at Bantarkawung that attended the Ijma' Ulama' Jamaah Tabligh at Gowa during the Covid-19 pandemic. Second, there is a say that there is no contagious disease, if it is contagious, then it must be transmitted by God's will. Third, the approximately 27 person of Jama'ah Tabligh Bantarkawung who attended Ijtima Ulama' Gowa, 17 person were positively Covid-19 proved by rapid test. Then, 13 person tested positive for swab tests that made their home area become Covid-19 red zone. Kata Kunci Jama’ah Tabligh, Covid-19, preaching, living hadith, healthiness. Abstrak Penelitian ini membahas tentang praktik dakwah yang dilakukan Jama’ah Tabligh Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah, dan pengaruhnya terhadap penyebaran Covid-19. Dalam hal ini, fenomena kegiatan dakwah yang dilakukan Jama’ah Tabligh menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggabungkan antara penelitian lapangan dan kepustakaan. Hasil penelitian dalam tulisan ini adalah; pertama, praktik dakwah Jama’ah Tabligh Batarkawung yang menghadiri Ijma’ Ulama Jama’ah Tabligh di Gowa pada masa pandemi Covid-19. Kedua, terdapat hadis yang dimaknai bahwa tidak ada penyakit menular, jika ternyata menular, maka penularannya pasti atas kehendak Allah Swt. Ketiga, dari sekitar 27 orang Jama’ah Tabligh Tanggal masuk 13 April 2020 p-ISSN 2528-756 e-ISSN 2548-4761 152 Bantarkawung yang menghadiri Ijtima’ Ulama Gowa, 17 orang diantaranya dinyatakan positif Covid-19 yang dibuktikan dengan hasil dari rapid test. Kemudian, 13 orsang diantaranya positif melalui swab test yang menjadikan daerah tempat tinggal mereka sebagai zona merah Covid-19. Kata Kunci Jama’ah Tabligh, Covid-19, dakwah, living hadis, kesehatan. A. Pendahuluan enomena kegiatan dakwah yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh pada masa pandemi Covid-19 menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan masyarakat. Jama’ah Tabligh telah menjadwalkan kegiatan perkumpulan dunia zona Asia atau dengan istilah lain yakni Jama’ah Ijtima’ Jama’ah Tabligh se-Asia, yang akan dihadiri oleh ulama-ulama Jama’ah Tabligh dan para anggotanya pada tanggal 19-22 Maret 2020. Kegiatan dakwah tersebut diadakan di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, yang dihadiri oleh ribuan anggota Jama’ah Tabligh baik WNI maupun WNA yang berasal dari Malaysia, Thailand, Singapura, Pakistan, Banglades, Arab Saudi, dan lainnya. BBC News Indonesia, 2020 Dari sekian ribu peserta yang menghadiri ijtima’ tersebut, beberapa di antaranya adalah anggota Jama’ah Tabligh yang berasal dari Kecamatan Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah. Sebagaimana telah diketahui dari berbagai informasi di media cetak maupun daring, bahwa kegiatan dakwah atau ijtima’ tersebut dibatalkan meskipun ribuan pesertanya ijtima’telah hadir di lokasi pertemuan. Pembatalan ijtima’ tersebut disebabkan pandemi Covid-19 yang tidak memungkinkan untuk adanya perkumpulan, karena dapat menyebabkan meluasnya penyebaran Covid-19. Ada yang berpendapat bahwasanya Jama’ah Tabligh adalah salah satu penyumbang terbesar korban positif Covid-19. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya data yang mengatakan bahwa di India dari sekitar kasus Covid-19, sekitar diantaranya adalah dari Inayatul Mustautina 153 Jama’ah Tabligh. Kemudian di Malaysia, 60% kasus Covid-19 adalah dari Jama’ah Tabligh serta 68% kasus kematian akibat Covid-19 adalah dari Jama’ah Tabligh. Qudsy, Dan di Indonesia, kasus Covid-19 yang disumbang dari Jama’ah Tabligh mulai menuai panen, terutama setelah adanya ijtima’ di Gowa tersebut. Untuk daerah Brebes, Jawa Tengah, hasil konferensi pers menunjukkan bahwasanya Bupati Brebes, Idza Priyanti, mengumumkan bahwa warga yang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona yakni 16 orang yang mana semuanya adalah alumni ijtima’ Ulama Gowa, Sulawesi Selatan. Suripto, Tulisan ini setidaknya menggunakan dua variabel tema, yaitu praktik dakwah Jama’ah Tabligh dan pengaruh terhadap penyebaran wabah virus Corona. Sejauh ini, kajian mengenai praktik dakwah Jama’ah Tabligh ataupun hal-hal yang mengenai Jama’ah Tabligh telah banyak dilakukan oleh para pengkaji. Sejauh penulusuran yang dilakukan oleh penulis, terdapat tiga kecenderungan dalam kajian atas praktik dakwah Jama’ah Tabligh yang berlangsung di masyarakat. Pertama, kajian yang penulis kelompokkan sebagai tradisi keagamaan, di antaranya hasil penelitian dari Achmad Sulfikar Sulfikar, 2016, M. Zainul Asror Asror, 2018, dan Umdatul Hasanah Hasanah, 2014. Kedua, kajian yang penulis kelompokkan sebagai simbol keagamaan, di antaranya adalah penelitian dari Kankan Kasmana Kasmana, 2011, Hardi Putra Wirman Wirman, 2012, danUjang Saepuloh Saepuloh, 2009. Ketiga, kajian yang penulis kelompokkan sebagai bentuk transmisi dan transformasi keilmuan, di antaranya adalah dari Didi Junaedi Junaedi, 2013, Sukron Ma’mun Ma’mun, 2019, Hasbiyallah dkk Hasbiyallah dkk, 2020, dan Hasan Basri dkk Basri & dkk, 2020. Untuk kajian yang membahas tentang praktik dakwah Jama’ah Tabligh dan pengaruhnya pada masa pandemi Covid-19 saat ini, masih luput dari penelitian pengkaji. Adapun tulisan ini bertujuan untuk melengkapi literatur yang telah ditunjukkan di atas. Berangkat dari fenomena dan permasalahan yang sudah TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR dipaparkan di atas, paling tidak terdapat tiga rumusan masalah untuk menjawab permasalahan di atas. Pertama, bagaimana proses praktik dakwah Jama’ah Tabligh Bantarkawung pada masa Covid-19? Kedua, apa faktor yang memotivasi anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung dalam berdakwah pada masa pandemi Covid-19? Ketiga, bagaimana pengaruh dakwah Jama’ah Tabligh terhadap penyebaran virus Corona? Untuk mendapatkan data informasi atau jawaban dari rumusan masalah tersebut, penulis menelusuri berbagai sumber, baik itu sumber tertulis maupun wawancara informan setempat, sehingga tersaji dalam pemaparan deskriptif mengenai hal tersebut. Tulisan ini berasumsi bahwa pertama, praktik dakwah yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh adalah salah satu tradisi keagamaan yang telah lama eksis dan menjadi suatu tradisi turun menurun yang melekat bagi Jama’ah Tabligh sehingga tidak bisa ditinggalkan. Kedua, Jama’ah Tabligh adalah salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, yang memiliki banyak pengikut dari berbagai negara, yang tidak mengutamakan khilafiyah sehingga banyak diminati dari berbagai kalangan. Maka, Jama’ah Tabligh ini dapat dikatakan sebagai simbol keagamaan. Ketiga, doktrin ajaran dan semangat dakwah Jama’ah Tabligh yang berpegang teguh pada al Qur’an dan sunah dalam pandangannya adalah bentuk transmisi dan transformasi keilmuan yang harus tetap dilakukan dalam kondisi apapun. B. Praktik Dakwah Jama’ah Tabligh sebagai Tradisi Keagamaan Secara bahasa, kata dakwah berasal dari Bahasa Arab yakni  yang merupakan bentuk mashdar dari fi’il  yang artinya seruan, ajakan, atau panggilan. Saerozi, 2013, p. 9 Adapun pengertian secara istilah, kata dakwah memiliki banyak arti yang diungkapkan oleh para pakar atau tokoh, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut. Saputra, 2012, Inayatul Mustautina 155 a. Prof. Toha Yahya Oemar, dakwah adalah upaya mengajak umat dengan cara bijaksana pada jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah swt untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat. b. Syaikh Ali Mahfudz dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin, dakwah Islam adalah upaya mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk/hidayah, menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. c. Prof. Dr. Hamka, dakwah adalah seruan panggilan untuk menganut suatu pendirian yang pada dasarnya berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar ma’ruf nahi munkar. Dapat disimpulkan bahwasanya dakwah adalah upaya mengajak atau menyeru umat manusia untuk amar ma’ruf nahi munkar sesuai yang telah diperintahkan dengan unsur-unsur tertentu. Kajian literatur tentang praktik dakwah Jama’ah Tabligh melahirkan beberapa variasi di antaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Umdatul Hasanah yang berjudul “Keberadaan Kelompok Jama’ah Tabligh dan Reaksi Masyarakat Perspektif Teori Penyebaran Informasi dan Pengaruh”. Penelitian tersebut mendiskusikan secara lebih jauh keberadaan kelompok Jama’ah Tabligh dan reaksi masyarakat terhadap perspektif teori penyebaran informasi dan pengaruh. Selain itu, penelitian tersebut menjelaskan pula mengenaiinovasi dakwah serta proses penyebaran informasi yang dilakukan oleh komunitas Jama’ah Tabligh. Hasanah, 2014 Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh M. Zainul Asror yang berjudul “Strategi Dakwah Gerakan Jama’ah Tabligh di Kota Pancor” yang mana hasil dari penelitian tersebut adalah Jama’ah Tabligh memilih masjid tertentu yang strategis untuk dijadikan markas Jama’ah Tabligh di Pancor. Dengan lokasi yang strategis, Jama’ah Tabligh mampu menarik lebih banyak peminat serta membahas step by step strategi menarik peminat untuk TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR menjadi bagian dari Jama’ah Tabligh . Asror, 2018 Kemudian penulisan yang dilakukan oleh Achmad Sulfikar yang berjudul “Rekonseptualisi Gerakan Dakwah Jama’ah Tabligh Kota Palopo” yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan factual, memahami dan mengungkapkan berbagai gejala yang timbul sepanjang proses penyampaian pesan-pesan dakwah oleh anggota Jama’ah Tabligh. Sulfikar, 2016 C. Jama’ah Tabligh sebagai Simbol Keagamaan Jama’ah Tabligh merupakan suatu kelompok dakwah yang didirikan pertama kali oleh seorang ulama India yang bernama Muhammad Ilyas al-Kandhlawy. Ia adalah seorang ulama salaf yang lahir pada tahun 1303 H/1886 M di sebuah desa yang bernama Kandhla, sehingga ia memiliki nama akhir al-Kandhlawy. Rasmianto, 2010, p. 9 Berdasarkan latarbelakang keluarga dan pendidikannya, ia mampu menjadi ulama yang dapat menyebarkan dakwah ke berbagai tempat, salah satunya Indonesia. Kajian literatur terkait Jama’ah Tabligh diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Kankan Kasmana yang berjudul “Jama’ah Tabligh dan Festisism” yang menganalisa tentang Jama’ah Tabligh dan Festisism, sebuah wacana tentang sudut pandang festisism dan keyakinan golongan dengan berbagai sumber rujukan. Kasmana, 2011 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Ujang Saepuloh yang berjudul “Model Komunikasi Dakwah Jama’ah Tabligh” tulisan ini membahas tentang tiga ciri yang sangat tampak dari komunikasi dakwahnya jama’ah tabligh. Saepuloh, 2009 Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Hardi Putra Wirman yang berjudul “Fenomena Jama’ah Tabligh” yang membahas tentang aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh Jama’ah Tabligh, terutama khuruj, serta mereka memiliki kitab pedoman yaitu Fadhail Amail karya Syeikh Zakaria. Wirman, 2012 Inayatul Mustautina 157 D. Doktrin Ajaran Jama’ah Tabligh sebagai bentuk transmisi dan transformasi keilmuan Jama’ah Tabligh ini memiliki prinsip bahwasannya ketika seseorang ingin mengamalkan ajaran Islam secara kaffah maka ia harus mengacu pada ajaran dasar yakni al Qur’an dan Sunnah, yang terpotret pada kehidupan zaman Rasulullah saw dan juga para sahabat. Artinya bahwa seseorang tersebut harus menempuh cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat dalam menjalankan agama Islam. Serta harus rela berkorban harta dan waktu demi kepentingan agama. Kemudian kelompok atau gerakan jama’ah tabligh ini memformulasikan ajaran utamanya menjadi enam kategori yaitu; Iman atau syahadat, sholat, ilmu dan dzikir, ukhuwah Islamiyah, ikhlas, dan jihad. Rasmianto, 2010 Kajian literatur tentang doktrin ajaran Jama’ah Tabligh melahirkan variasi yang menarik untuk dikaji oleh para peneliti. Kajian ini dapat dilihat di antarannya dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Didi Junaedi yang berjudul “Memahami Teks, Melahirkan Konteks Menelisik Interpretasi Ideologis Jama’ah Tabligh” yang membahas tentang penafsiran teologis dan fiqih oleh Jama’ah Tabligh serta mendiskusikan sejumlah konsep Jama’ah Tabligh yang lahir atas pembacaan mereka terhadap sejumlah ayat al Qur’an dan Hadis. Junaedi, 2013 Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Sukron Ma’mun yang berjudul “Konsep Keluarga dan Perempuan dalam Perspektif Jama’ah Tabligh Analisa Normatif Sosiologis” yang membahas tentang konsep keluarga dan juga peran ideal kaum perempuan istri dalam keluarga menurut Jama’ah Tabligh. Ma’mun, 2019 Selanjutnya oleh Hasbiyallah dkk yang berjudul “Fiqih Corona Studi Pandangan Ulama Indonesia terhadap Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid-19”, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan fatwa MUI di masyarakat dan menghasilkan analisa terhadap pandangan masyarakat terkait fatwa MUI dan SE Kementrian Agama. Hasbiyallah dkk, 2020 Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Hasan Basri dkk yang berjudul TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR “Pendidikan Agama Islam dan Pemeliharaan Diri Hifdz An-Nafs di Tengah Wabah Virus Corona” yang menghasilkan bahwa Pendidikan Agama Islam di tengah pandemi Covid-19 yang dilaksanakan dengan isolasi dan pembelajaran jarak jauh atau dikenal dengan istilah daring dengan memanfaatkan teknologi informasi yang merupakan pengejawantahan dari pemeliharaan diri. Basri & dkk, 2020 E. Metode Metode yang dilakukan dalam penelitian ini menggabungkan antara penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Penelitian ini dapat dikatakan sebagai penelitian lapangan karena objek dalam penelitian ini adalah orang-orang yang melaksanakan praktik dakwah Jama’ah Tabligh dan terkena dampak atau pengaruh langsung dari virus Corona. Dengan menggunakan pendekatan fenomologi agama, tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan suatu gejala agama yang muncul sebagai suatu fenomena empiris dari struktur umum suatu fenomena yang mendasari setiap fakta religius. Dhavamony, 1995, p. 27 Adapun penelitian kepustakaan pada penelitian ini diaplikasikan dalam kajian yang berhubungan dengan kajian teks-teks dan teori yang melingkupi. Adapun untuk memperoleh dan mengumpulkan data, penulis melakukannya dengan beberapa cara, antara lainObservasi yang dimaksudkan di sini adalah penulis melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian, yakni pelaku dakwah Jama’ah Tabligh kecamatan Bantarkawung, Brebes-Jawa Tengah yang mengikuti ijtima’ di Gowa, Sulawesi Selatan. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data tentang berapa banyak anggota Jama’ah Tabligh kecamatan Bantarkawung yang mengikuti ijtima’ Jama’ah Tabligh di Gowa, Sulawesi Selatan dan berapa banyak yang terkena virus corona. Inayatul Mustautina 159 Setelah data yang didapatkan selesai dikumpulkan, maka tahap berikutnya adalah tahap analisis. Pada tahap ini, data yang didapatkan kemudian dianalisis sehingga dapat menghasilkan suatu jawaban sementara yang kemudian dapat dipakai untuk menjawab persoalan-persoalan yang diajukan dalam penelitian. F. Praktik Dakwah Jama’ah Tabligh Bantarkawung pada Masa Pandemi Covid-19 Terdapat beberapa konsep, pokok-pokok ajaran, dan istilah-istilah yang sangat identik dalam gerakan Jama’ah Tabligh. Diantara istilah-istilah itu adalah sebagai berikut Jaulah adalah bentuk penyebaran informasi keagamaan dalam bentuk komunikasi interpersonal melalui pendekatan silaturahmi atau berkunjung kepada sasaran dakwah. Khuruj merupakan aktifitas rutin yang harus dilakukan oleh aktivis dakwah dalam komunitas jama’ah ini. Chillah merupakan rutinitas aktivis jama’ah yang keluar rumah atau kampung untuk bertabligh dengan waktu-waktu yang ditentukan, dalam hal ini minimal tiga hari dalam satu bulan, empat puluh hari dalam satu tahun dan empat bulan dalam seumur hidup. Hasanah, 2014 Dalam perjalannanya, gerakan ini semakin tersistematis dengan baik. Di setiap daerah, gerakan ini memiliki markas-markas yang dijadikan sebagai pusat pergerakannya. Setiap markas tersebut memilki penanggung jawab yang bertugas mengontrol aktivitas anggotanya. Selanjutnya setelah mengontrol, setiap penanggung jawab tersebut harus memberikan laporan kepada penanggung jawab wilayah provinsi, yang bertanggung jawab pula kepada Majelis Syuro Indonesia. Majlis Syuro Indonesia tersebut beranggotakan 13 orang yang memiliki tugas untuk mengontrol perkembangan gerakan jama’ah tabligh di seluruh Indonesia. Majelis Syuro Indonesia nantinya akan bertanggung jawab kepada Majelis Syuro Pusat yang berada di India, yang anggotanya berasal dari berbagai negara. Sebagai sebuah lembaga, majelis ini mengadakan ijtima’ sekali dalam setahun untuk TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR membicarakan program-program dakwah dan melaksanakan evaluasi umum. Rasmianto, 2010 Sejauh pengamatan penulis, pada masa pandemi Covid-19 ini, praktik-praktik dakwah Jama’ah Tabligh ataupun kegiatan-kegiatan rutin Jama’ah Tabligh dilaksanaan sebagaimana biasanya. Selain kegiatan yang disebutkan pada istilah-istilah diatas, pada masa pandemi ini, terdapat kegiatan dakwah Jama’ah Tabligh yang direncanakan akan dilaksanakan secara besar-besaran yang melibatkan banyak orang. Kegiatan dakwah tersebut adalah Ijtima’ Ulama Jama’ah Tabligh Dunia, yang mana untuk zona Asia, salah satunya dilaksanakan di Indonesia, tepatnya di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. beribu-ribu orang dari anggota Jama’ah Tabligh mendatangi lokasi tersebut, beberapa diantaranya adalah dari Bantarkawung, Brebes-Jawa Tengah. Sebagian mereka berangkat ke lokasi melalui jalur udara dengan menggunakan pesawat, dan sebagian lainnya menggunakan kapal laut hasil wawancara salah satu warga Bantarkawung, pada tanggal 10 Mei 2020. Dalam hal ini penulis tidak dapat mendapatkan data langsung dari sumbernya, karena data pelaku dirahasiakan, sehingga penulis tidak mengetahui siapa saja anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung yang mengikuti Jama’ah Tablighima’ Gowa tersebut dan bagaimana pelaksanaan secara detailnya. Hasanah, 2014 Secara garis besar, aktor- yang terlibat dalam hal ini yaitu pemimpin dan anggota atau peserta ijtima’. Dalam istilah Jama’ah Tabligh, pemimpin mereka disebut dengan istilah Amir. Amir adalah sebutan bagi pemimpin mereka sesuai dengan tingkatannya yang disepakati bersama berdasarkan hasil musyawarah. Amir ini bertugas sebagaimana mestinya seorang pemimpin yakni memimpin para anggotanya. Begitupula dengan anggota yakni mereka melaksanakan apa yang diperintahkan oleh pemimpin. Pemimpin atau Amir dan anggotanya dari setiap daerah berangkat bersama menuju lokasi untuk menjadi peserta ijtima’, begitu pula yang dilakukan oleh amir dan anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung. Mereka berangkat bersama Inayatul Mustautina 161 menuju lokasi untuk menjadi peserta ijtima’ Jama’ah Tabligh se-Asia pada tanggal 19-22 Maret 2020. Dengan demikian, dapat diketahui bahwasannya anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung tetap menjalankan aktivitas-aktivitas dakwah Jama’ah Tabligh pada masa pandemic Covid-19 ini sebagaimana biasanya, dan beberapa diantaranya mengikuti ijtima’ ulama Jama’ah Tabligh yang diadakan di Gowa, Sulawesi Selatan untuk menjadi peserta ijtima’ tersebut. G. Faktor yang Memotivasi Dakwah Jama’ah Tabligh Bantarkawung pada Masa Pandemi Covid-19 Pada dasarnya Jama’ah Tabligh ini memiliki tujuan utama dalam dakwahnya, yakni untuk mengajak manusia ke jalan Allah Swt melalui amar ma’ruf nahi munkar. Mereka meyakini bahwa mendakwahkan ajaran yang dikembangkan merupakan suatu kewajiban. Perlu diketahui bahwasannya Jama’ah Tabligh ini memiliki keunikan dan kekhasan yang membedakannya dari yang lain, terutama dalam hal dakwah. Sistem dakwah Jama’ah Tabligh ini sangatlah khas, yaitu dengan sistem khuruj. Kata khuruj berasal dari bahasa arab  yang artinya keluar. Khuruj dalam dakwah Jama’ah Tabligh ini adalah metode dakwah yang dilakukan dengan cara keluar meninggalkan rumah dan keluarganya dalam waktu tertentu menuju satu perkampungan atau daerah secara berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain, atau dari satu masjid ke masjid yang lain untuk mendakwahkan ajaran Islam kepada masyarakat daerah tersebut. Saepuloh, 2009 1. Alasan normatif Terdapat beberapa hadis yang menjadi landasan mereka dalam berdakwah, sehingga mereka memiliki motivasi yang luar biasa untuk membentuk jama’ah Islam yang hidup di bawah tatanan ajaran Islam. Hadis tersebut adalah hadis dari Ibnu Amir bin Ash bahwasanya Rasulullah saw bersabda; “sampaikanlah apa-apa dariku walau satu ayat”, hadis TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari al-Albani, 2003; 298. Rasmianto, 2010 Kemudian terdapat hadis yang menyatakan bahwa “Tidak ada infeksi, mengundi nasib, binatang terbang di malam hari, dan cacing dalam perut” HR. Bukhari 5278 yang mana Jama’ah Tabligh menyimpulkan hadis tersebut bahwa tidak ada penyakit menular, jika ternyata menular, maka penularannya pasti atas kehendak Allah Swt. Qudsy, Apa yang mereka pahami dari hadis ini, menjadi alasan normatif bagi mereka untuk tetap melaksanakan aktivitas dakwah Jama’ah Tabligh. Karena dalam pandangan mereka, bahwa manusia hanya boleh takut pada Allah Swt tidak dengan yang lainnya termasuk virus corona yang sedang mewabah ini. 2. Alasan historis Sejauh pengamatan penulis, doktrin ajaran Jama’ah Tabligh melekat sangat kuat pada anggotanya. Para anggotanya memiliki semangat kemandirian untuk berdakwah dengan mengandalkan biaya sendiri, tanpa mau dibantu oleh pihak lain walau sekecil apapun. Dengan bekal yang sedikit uang hasil menabung serta pakaian yang sederhana, mereka sangat bersemangat bertabligh ke desa-desa, kota-kota dan bahkan negara-negara lain. Semua itu dilakukan dengan penuh keikhlasan serta kesungguhan yang luar biasa. Kemudian dengan adanya koordinasi mulai dari tingkat lokal individual sampai kepada tingkat nasional, bahkan internasional, menjadikan Jama’ah Tabligh ini semakin kuat. Munir, 2017 Dengan doktrin ini pula lah Jama’ah Tabligh Bantarkawung termotivasi untuk terus melaksanakan aktivitas Jama’ah Tabligh walaupun kondisi saat ini cukup berbahaya untuk melaksanakan aktivitas di luar rumah, salah satunya yaitu ijtima’ yang diadakan di Gowa. Bahkan menurut data yang penulis dapatkan, bahwa ada sebagian dari Jama’ah Tabligh Bantarkawung yang ekonominya kurang mencukupi, tetapi mereka tetap memberanikan diri untuk berhutang supaya dapat mengikuti ijtima’ Gowa hasil wawancara salah satu warga Bantarkawung, pada tanggal 10 Mei Inayatul Mustautina 163 2020. Demikian alasan normatif maupun historis Jama’ah Tabligh khususnya Jama’ah Tabligh Bantarkawung dalam melasanakan aktivitas jama’ahnya pada masa pandemi Covid-19 ini. Yang mana mereka tetap melaksanakan aktivitasnya walaupun mereka mengetahui kondisi yang ada pada saat ini. H. Dampak dan Pengaruh Dakwah Jama’ah Tabligh Bantarkawung terhadap Penyebaran Covid-19 Memasuki tahun 2020, dunia dikagetkan dengan adanya wabah virus yang dikenal dengan nama virus corona atau Covid-19 yang dimulai dari daerah Wuhan, Cina. Kemudian virus tersebut menyebar ke seluruh negeri, termasuk Indonesia. Semenjak Indonesia ditetapkan sebagai salah satu negara yang terinfeksi Covid-19, dengan segera pemerintah Indonesia membuat kebijakan publik untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut, karena virus ini merupakan virus yang sangat berbahaya yang dapat menyebar dengan sangat cepat meskipun hanya melalui sentuhan. Virus ini tidak terlihat, bahkan orang yang terjangkit virus inipun tidak langsung tampak gejalanya sehingga dapat menularkan virus tersebut kemana-saja tanpa mengetahui dirinya telah terinfeksi. Bahaya Covid-19 tersebut dan kecepatan penularannya yang terus meningkat, membuat pemerintah mengambil kebijakan untuk menjaga kebersihan sesering mungkin melalui cuci tangan, menggunakan handsenitizer dan masker. Kemudian tidak melakukan kontak fisik secara langsung dan tidak berhubungan sosial untuk sementara waktu selama masa pandemi Covid-19 ini. Selanjutnya pemerintah juga mengeluarkan kebijakan kepada seluruh masyarakat untuk bekerja, belajar dan beribadah di rumah saja. Kebijaan tersebut melibatkan salah satunya yaitu Majlis Ulama Indonesia, yang kemudian MUI mengeluarkan fatwa MUI No. 14 tahun 2020 tentang ibadah selama masa Covid-19. Fatwa tersebut diperkuat TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR dengan adanya surat edaran Kementerian Agama No. 6 tahun 2020. MUI, Masyarakat memiliki pandangan yang beragam dalam menyikapi kebijakan pemerintah dan fatwa MUI tersebut di atas. Ada yang merespon kebijakan dan fatwa tersebut dengan sungguh-sungguh, ada juga yang sebaliknya. Begitupula yang terjadi di masyarakat Bantarkawung. Mereka yang tidak merespon kebijakan pemerintah dan fatwa MUI dengan baik menganggap pandemi Covid-19 ini adalah hal biasa yang tidak terlalu berbahaya. Karena mereka memiliki pemikiran bahwa kenapa manusia harus takut dengan virus corona sedangkan tidak takut dengan yang menciptakan virus corona tersebut. Sehingga pada akhirnya beberapa masyarakat Bantarkawung tetap melaksanakan aktivitas seperti biasanya. Menurut data yang penulis dapatkan bahwa diantara masyarakat Bantarkawung yang tidak merespon kebijakan pemerintah dan fatwa MUI tersebut dengan baik adalah masyarakat yang tergabung dalam kelompok Jama’ah Tabligh Bantarkawung. Hal ini dibuktikan dengan adanya kelompok Jama’ah Tabligh Bantarkawung yang tetap berangkat ke Gowa Sulawesi Selatan untuk mengikuti ijtima’ Jama’ah Tabligh disana tanpa menghiraukan protokol-protokol kesehatan yang telah diumumkan oleh Puskesmas Bantarkawung. Hal ini disebabkan oleh pemahaman Jama’ah Tabligh terhadap hadis yang dijelaskan di atas tanpa melihat hadis yang lainnya, seperti hadis yang menyatakan bahwa “bilamana suatu wabah menjangkit suatu kaum, maa janganlah kalian mendatanginya, tetapi jikalau kalian ada di daerah itu, maka janganlah keluar darinya”. HR. Bukhari Selanjutnya dari data yang didapat oleh penulis, bahwa sekitar 27 anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung berangkat bersama menuju Gowa. Ketika mereka dipulangkan dari sana, petugas medis dengan segera menghimbau mereka untuk melaksanaan isolasi dan test kesehatan. Setelah di tes swab, 17 dari 27 anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung tersebut dinyatakan positif. Setelah hasil rapid tes keluar, 13 dari mereka dinyatakan Inayatul Mustautina 165 positif terinfeksi virus corona atau Covid-19 Hasil wawancara salah satu warga Bantarkawung, pada tanggal 10 Mei 2020. Dengan adanya data bahwa 13 dari anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung tersebut yang positif terinfeksi Covid-19, menjadikan Jama’ah Tabligh sebagai penyumbang korban positif Covid-19 terbesar di kecamatan Bantarkawung dan menjadikan kecamatan tersebut sebagai zona merah Covid-19 sehingga protokol-protokol kesehatan diberlakukan secara lebih ketat di Kecamatan Bantarkawung ini. Misalnya harus menggunakan masker jika memang harus keluar rumah, setiap rumah menyediakan alat cuci tangan, sampai lockdown di beberapa gang. I. Diskusi Hasil Penelitian 1. Praktik Dakwah Jama’ah Tabligh sebagai Tradisi Keagamaan Desa Temboro yang dahulu adalah daerah miskin serta minim dengan pendidikan keagamaan. Lingkungan Temboro adalah daerah pertanian. Kegiatan ekonomi penduduknya dalam rangka memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah dengan mengandalkan hasil dari bertani. Faktanya hasil pertanian masyarakat masih belum bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat secara umum dari kemiskinan. Menurut seorang pendatang M. Ikhsan saat diwawancarai oleh Moh Yusuf, Yusuf, 2019, awal ketika ia sampai ke Desa Temboro pada tahun 1998 mata pencaharian utama masyarakat Desa Temboro adalah bertani. Rumah masyarakat rata-rata masih gedhek dinding yang dibuat dari anyaman bambu dan ada sebagian rumah yang bagian bawah dindingnya rapuh dimakan rayap. Disamping itu, jarang sekali menemukan rumah yang lantainya menggunakan keramik. Hal yang sama juga berdampak pada pendidikan keagamaan yang belum tersedia di Desa Temboro kala itu. Tidak dipungkiri bahwa keberadaan Jama'ah Tabligh di Desa , memberikan Jawa TimurProvinsi Temboro, Kabupaten Magetan, perubahan dan pengaruh positif yang sangat besar. Dari aspek keagamaan, secara tidak langsung masyarakat akan terpengaruh dengan semangat TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR hal ibadah lainnya. Jika dilihat -dalam manhaj ibadah kesehariannya serta haldari segi perekonomian, kemakmuran ekonomi akan meningkat dikarenakan keberadaan beberapa pondok pesantren dan masyarakat yang mberikan akses kepada ada di desa tersebut. Aktivitas keseharian pondok memasyarakat setempat untuk membuka usaha dagang. Dulunya masyarakat setempat berprofesi sebagai petani, kemudian mereka beralih profesi menjadi seorang pedagang. Ada yang berjualan makanan dan minuman, menjual jasa becak motor, jasa parkir, jasa berjualan pakaian, gamis wanita, Dalam Tesis Fadhol Muhammad Luthfi Ali menjaga pengajian dan lainnya. gkat salah satu peran , 2019 ,Bapak Lukman disebutkan bahwaboro keberadaan Jama'ah Tabligh di Desa Tem desa yang membenarkanmemberikan dampak positif diberbagai aspek salah satunya pada aspek dan perekonomian di desa tersebut. Zulaiha, keagamaan 2. Jama’ah Tabligh sebagai Simbol Keagamaan Jama’ah Tabligh merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Dunia yang memiliki banyak pengikut dari berbagai Negara. Jama’ah Tabligh yang tidak mengutamakan khilafiyah membuatnya banyak diminati oleh berbagai kalangan yang berasal dari berbagai daerah. Salah satunya adalah Jama’ah Tabligh yang ada dan berkembang di daerah Bantarkawung, kabupaten Brebes- Jawa Tengah. Hal tersebut diketahui dengan adanya data korban positif Covid-19 dari sekelompok Jama’ah Tabligh yang menghadiri ijtima’ Jama’ah Tabligh di Gowa, karena pada dasarnya, anggota Jama’ah Tabligh tidak terlalu mempublikasikan dirinya sebagai bagian dari Jama’ah Tabligh terutama tidak mempublikasikan melalui media. Mereka akan tampak dari beberapa kegiatannya seperti khuruj ataupun dari cara berpenampilannya yang khas. Badriza, 1997 Jama’ah Tabligh merupakan suatu kelompok dakwah yang didirikan pertama kali oleh seorang ulama India yakni Maulana Muhammad Ilyas. Ia adalah seorang ulama salaf yang lahir pada tahun 1303 H/1886 M di sebuah desa yang bernama Kandhla, sehingga ia memiliki nama akhir al- Inayatul Mustautina 167 Kandhlawy. Rasmianto, 2010. p. 9 Berdasarkan latarbelakang keluarga dan pendidikannya, ia mampu menjadi ulama yang dapat menyebarkan dakwah ke berbagai tempat, salah satunya Indonesia. Abdul Aziz menjelaskan dalam artikelnya bahwa gerakan Jama’ah Tabligh pertama kali datang ke Indonesia yaitu sekitar tahun 1952 yang dipimpin oleh Miaji Isa Salah satu tokoh keagamaan jama’ah tabligh yang berasal dari India. Mereka singgah untuk pertama kali yaitu di Medan, kemudian menyebarkan gerakannya dengan nama “Jama’ah Khuruj”. Aziz, 2004, Pada masa awal penyebarannya, gerakan ini belum terlalu terkenal di masyarakat Indonesia. Gerakan ini mulai menampakkan aktvitasnya secara intensif yaitu pada tahun 1974 dengan pusat dakwahnya yang bertempat di Masjid Kebon Jeruk, Jakarta Pusat. Pusat dakwah jama’ah tabligh ini bertugas mengkoordinasi kegiatan semua anggotanya yang tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Aktivitas mereka terus berjalan lancar dari tahun 1974 sampai 2004. Aziz, 2004 Dan menurut Taufik Rahman Salah satu anggota pasif jama’ah tabligh, namun di daerah tempat tiggalnya masih aktif kegiatan jama’ah tabligh salah satunya yaitu khuruj, aktivitas mereka masih berjalan lancar hingga sekarang. Keaktifan tersebut salah satunya dibuktikan dengan adanya khuruj, yang harus dilaksanakan oleh setiap anggotanya, maupun ijtima’ rutin yang masih dilaksanakan setiap tahunnya. 3. Pengaruh Doktrin Ajaran Jama’ah Tabligh sebagai Bentuk Transmisi dan Transformasi Keilmuan Pengaruh doktrin ajaran dan semangat dakwah Jama’ah Tabligh yang berpegang teguh pada al Qur’an dan sunnah dalam pandangannya adalah sebagai bentuk transmisi dan transformasi keilmuan. Dengan adanya doktrin-doktrin yang melekat erat pada setiap anggota Jama’ah Tabligh, sehingga pada masa pandemi Covid-19 yang berbahaya ini pun, doktrin-doktrin tersebut tidak luntur begitu saja. Junaedi, 2013 Hal tersebut dibuktikan dengan tetap berangkatnya anggota Jama’ah Tabligh Bantarkawung ke Gowa, Sulawesi Selatan, untuk mengkuti ijtima’ Jama’ah TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR Tabligh se-Asia yang dihadiri oleh berbagai kalangan dari berbagai tempat, dalam maupun luar negeri. J. Simpulan Kajian Living Hadis dan studi kasus dalam praktik dakwah yang penulis lakukan di kelompok Jama’ah Tabligh Bantarkawung, Brebes, Jawa Tengah, serta pengaruhnya terhadap penyebaran Covid-19 pada masyarakat setempat, telah penulis selesaikan. Dari data-data yang telah penulis paparkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa; pertama, praktik dakwah Jama’ah Tabligh yang tetap dilaksanakan pada masa pandemi Covid-19 ini, hal tersebut dibuktikan dengan adanya data Jama’ah Tabligh Batarkawung yang menghadiri iJama’ah Tablighima Ulama Jama’ah Tabligh di Gowa. Kedua, terdapat hadis yang menyatakan bahwa “Tidak ada infeksi, mengundi nasib, binatang terbang dimalam hari, dan cacing dalam perut” HR. Bukhari 5278 yang mana Jama’ah Tabligh menyimpulkan hadis tersebut bahwa tidak ada penyakit menular, jika ternyata menular, maka penularannya pasti atas kehendak Allah Swt. Dengan itu, mereka untuk tetap melaksanakan aktivitas dakwah Jama’ah Tabligh seperti biasanya. Karena dalam pandangan mereka, bahwa manusia hanya boleh takut pada Allah swt tidak dengan yang lainnya termasuk virus Corona yang sedang mewabah. Ketiga, dari sekitar 27 orang Jama’ah Tabligh Bantarkawung yang menghadiri Ijtima’ Gowa, 17 orang di antaranya positif melalui rapid test, kemudian 13 orang di antara 17 orang reaktif dinyatakan positif melalui swab test. Hal tersebut menjadikan daerah tempat tinggal mereka sebagai zona merah Covid-19. K. Daftar Pustaka Alwi, F. M. L. 2019. Peran Pondok Pesantren Terhadap Kegiatan Bisnis di Kampung Madinah Desa Tembro Kec. Karas Kab Magetan Analisis Etika Bisnis Islam. UIN Sunan Ampel. Asror, M. Z. 2018. Strategi Dakwah Gerakan Jamaah Tabligh di Kota Pancor. Studi Masyarakat dan Pendidikan, 2. Inayatul Mustautina 169 Aziz, A. 2004. The Jamaah Tabligh Movement in Indonesia; Peaceful Fundamentalist. Studia Islamika, 11. Badriza, K. 1997. Gerakan Jamaʻah Tabligh Dan Perkembangan Ekonomi Komunitas Sub-Kultur Kampung Madinah, Desa Temboro, Karas, Magetan. UIN Sunan Kalijaga. Basri, H., & dkk. 2020. Pendidikan Agama Islam dan Pemeliharaan Diri Hifz An-Nafs di Tengah Wabah Virus Corona. Dhavamony, M. 1995. Fenomenologi Agama, terj. Kelompok Studi Agama Driyakarya. Kanisius. Hasanah, U. 2014. Keberadaan Kelompok Jamaah Tabligh dan Reaksi Masyarakat Perspektif Teori Penyebaran Informasi dan Pengaruh. Indo-Islamika. Hasbiyallah dkk. 2020. Fiqih Corona Studi Pandangan Ulama Indonesia terhadap Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid19. Ijtima di Gowa dan penahbisan uskup di Ruteng, Presiden Jokowi evaluasi acara keagamaan. 2020, Maret 19. BBC News Indonesia. Junaedi, D. 2013. Memahami Teks, Melahirkan Konteks Menelisik Interpretasi Ideologis Jamaah Tabligh. Jurnal Studi Qur’an dan Hadis, 2. Kasmana, K. 2011. Jamaah Tabligh dan Festisisme. Visualita, 3. Ma’mun, S. 2019. Konsep Keluarga dan Perempuan dalam Perspektif Jamaah Tabligh Analisa Normatif Sosiologis. Jurnal Misykat, 4. MUI. Kebijakan Ibadah dalam Keadaan Darurat Wabah Patent No. 14. Munir, A. 2017. Akar Teologis Etos Kerja Jamaah Tabligh Studi Kasus Komunitas Jamaah Tabligh Desa Temboro Kecamatan Karas Magetan. Kodifikasia, 111, 50. Qudsy, D. S. Z. Jamaah Tabligh di Tengah Pusaran COVID-19 Islam Kaffah. Diambil 9 Juli 2020, dari Rasmianto. 2010. Paradigma Penddikan dan Dakwah Jama’ah Tabligh. UIN-Maliki Press. Saepuloh, U. 2009. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Ilmu Dakwah, 4. Saerozi. 2013. Ilmu Dakwah. Penerbit Ombak. Saputra, W. 2012. Pengantar Ilmu Dakwah. Rajawali Pers. Sulfikar, A. 2016. Rekonseptualisi Gerakan Dakwah Jamaah Tabligh Kota Palopo. Palita, 1. Suripto, I. Kasus Positif Corona Bertambah Signifikan, Brebes Segera Terapkan PKM. detiknews. Diambil 9 Juli 2020, dari Wirman, H. P. 2012. Fenomena Jamaah Tabligh. Hurriyah, 13. Yusuf, M. 2019. Jama’ah Tabligh Temboro Magetan Studi Gerakan Sosial Lokal Berorientasi Nilai. UIN Sunan Kalijaga. Zulaiha, S. Jama’ah Tabligh dalam Perspektif Psikologis. 18. TIDAK ADA PENYAKIT MENULAR ... Muslims often view everything, including Covid-19, based on their interpretations of religious doctrines the Qur'an and Hadith in a textual manner related to problems, situations, and conditions happening in society. For example, the Tablighi Jamaat, which relies more on textual interpretation than the Covid-19 protocol, was counterproductive Mustautina, 2020. It may be since many religious texts encourage congregational worship, such as attending mosques and prioritizing the spirituality and solidarity of the congregation Dahlan et al., 2020. ...... Contrary to mentioned above, some people responded to Covid-19 with a positive attitude, but some reacted negatively. A negative response was evident that 27 Tabligh Jamaat Bantarkawung Central Java members during a pandemic were positively infected with Covid-19 after attending the Ijma' Ulama Tablighi Jamaat in Gowa Sulawesi, thus turning those areas into red zones or highest level of pandemic Mustautina, 2020. Furthermore, some people who believed that Covid-19 was a threat rejected the corpse that died of such a disease for fear of disease transmission Sari & Wahid, 2020 and Sirajuddin et al. 2020. ...The Muslim community in Indonesia interprets Covid-19 controversially, which may have various consequences. This paper aims to map the pattern of interpretation of Covid-19 among Muslims in Indonesia and analyze how different understandings hindered pandemic crisis countermeasures. The data were obtained from online news and social media, which were then confirmed by open interviews, specifically covering two areas the respondents' views related to the interpretation of Covid-19 and the bases for their opinion. This study found three types of understanding First, textual interpretation, in which Covid-19 was interpreted as a 'punishment and a creature of God, so there is no need to be afraid of; instead, we need to get closer to God. Second, contextual interpretation, where Covid-19 was interpreted as a disaster/trial, needs to be addressed by complying with health protocols in Indonesia and improving our spirituality. Third, spiritual interpretation, where Covid-19 was interpreted as a test, so those who passed this test will increase their piety. Thus, the controversy in understanding the substance of the Covid-19 pandemic needs to be overcome. This paper suggests that more intensive education is required to improve public knowledge about the Covid-19 pandemic to prevent further adversity in its countermeasures. Received 30 January 2022 / Accepted 18 April 2022 / Published 5 May 2022... In this context, membership of the JT movement is based on freedom without considering the school or 'madhhab,' sect, and organizational background Hamdi 2017. In its development, the JT was led by an Amir Mustautina, 2020. Amir, a leader, is responsible for spreading da'wah the teaching of Islam based on Islamic traditions like Nadhatul Ulama, but it uses the ideology of tablīgh Arifin 2017. ...Arabization is not always identically carried out by immigrants of Arab descent, but non-Arab communities can carry out the Arabization process. This study aims to explain the Arabization process by the Jamaah Tabligh JT group by establishing the Kampung Madinah of Temboro Village. This study relies on collecting qualitative data through observation, interviews, and literature study with descriptive analysis. The findings show that the existence of JT in Temboro Village has resulted in a shift in community culture from secular to religious. The role of the JT leadership became an emerging factor in the Arabization process in the formation of a religious society. Likewise, JT's persuasive approach through education and religious activities facilitates public acceptance. The naming of Kampung Madinah in Temboro is driven by various Arabic symbols used, daily conversations, activities, and clothes. The existence of JT succeeds in constructing Temboro people's habits into “Islamic habits.” This study is limited to Kampung Madinah in Temboro as a research focus; therefore, it is recommended for further researchers to conduct comparative studies on the Arabization MunirSalah satu janji agama adalah kebahagiaan bagi pengikutnya. Janji tersebut diterjemahkan sesuai dengan mindstreem masing-masing. Salah satunya adalah Jamaah Tabligh. Jamaah Tabligh menyatakan dirinya sebagai komunitas yang netral dalam bermadzhab, ber-ormas, dan berpolitik, tetapi dalam bingkai ahl al-sunnah wa aljamâ’ah. Mereka lebih menonjolkan aktivitas keberagamaannya secara riil melalui praktik dakwah dengan mengedepankan akhlaq. Menurut Jamaah Tabligh tujuan hidup adalah untuk beribadah, sebagai khalifah, dan untuk berdakwah. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa Jamaah Tabligh memiliki etos kerja yang kuat dan ulet. Berdasarkan hal tersebut dirumuskan pertanyaan, bagaimana pandangan mereka terhadap kerja, ikhtiyar, dan tawakkal serta faktor-faktor yang melingkupinya. Pertanyaan tersebut dijawab dengan menggunakan logika induktif dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis dan pemaknaan data lapangan yang telah diorganisir dengan sistematis untuk menemukan makna yang terdalam deep-meaning di balik realitas yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola hidup Jamaah Tabligh didasarkan pada pemahaman konsep keagamaan yang dipegangi, yaitu enam sifat shahabat. Dari pemahaman tersebut, mereka berkeyakinan bahwa rizki dan keperluan hidup telah ditentukan Allah. Tetapi manusia wajib untuk mencari dan mengupayakan. Mereka memandang materi sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan, tetapi bukan menjadi tujuan hidup. Dari konsep pemahaman tersebut sekaligus menjadi dasar dalam berinteraksi dan berakulturasi dengan suasana yang baru. Akhirnya proses yang dilakukan dapat dimanfaatkan dan membentuk iklim kompetisi yang sehat dan berakhir dengan kemakmuran dan keharmonian AzizThe birth of Jamaah Tabligh was in fact a direct reaction to the emergence of aggressive Hindu proselytization movement, such as the Shuddhi Purifying and Sangathan Consolidation movement, which made wide-reaching attempt in the early 20th century to "return" to Hinduism those who had "left" the religion and converted to Islam during the period of Muslim political power in India. The main target of these right-wing Hindu movements were those they called "borderline Muslims" who still maintained many beliefs and cultural habit that had come from Hinuism. Maulana Muhammad Ilyas, founder of Jamaah Tabligh, believed that only a grass-roots Islamic movement could challenge the effort of Shuddhi and Sangathan, thought "purifying" these "borderline" Muslims and educating them about basic faith and worship in order to save them from the process of c 2014 by SDI. All right HasanahJamaah Tabligh is a transnational preaching movement that originated in India. The movement was introduced to Indonesia in 1970s and established Masjid Jami’ in Kebon Jeruk Jakarta as its headquarters. The members of Jamaah Tabligh referred to kitab Fadailul A’mal which teaches innovations in Islamic propagations. Some of their preaching traditions included outdoor preaching khuruj dan khillah and the method to invite people to do good deeds Jaulah. They have Amir as their leader and use the mosque as their center of da’wa activities. Using Diffusion of Information and Influence Theory, the article discusses the existence of the Jamaah Tabligh community and the public’s responses toward the Jamaʻah Tabligh Dan Perkembangan Ekonomi Komunitas Sub-Kultur Kampung Madinah, Desa TemboroK BadrizaBadriza, K. 1997. Gerakan Jamaʻah Tabligh Dan Perkembangan Ekonomi Komunitas Sub-Kultur Kampung Madinah, Desa Temboro, Karas, Magetan. UIN Sunan Agama Islam dan Pemeliharaan Diri Hifz An-Nafs di Tengah Wabah Virus CoronaH BasriBasri, H., & dkk. 2020. Pendidikan Agama Islam dan Pemeliharaan Diri Hifz An-Nafs di Tengah Wabah Virus Agama, terj. Kelompok Studi Agama DriyakaryaM DhavamonyDhavamony, M. 1995. Fenomenologi Agama, terj. Kelompok Studi Agama Driyakarya. Corona Studi Pandangan Ulama Indonesia terhadap Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid19Hasbiyallah DkkHasbiyallah dkk. 2020. Fiqih Corona Studi Pandangan Ulama Indonesia terhadap Ibadah dalam Kondisi Darurat Covid19.Jamaah Tabligh di Tengah Pusaran COVID-19 Islam KaffahD S Z QudsyQudsy, D. S. Z. Jamaah Tabligh di Tengah Pusaran COVID-19 Islam Kaffah. Diambil 9 Juli 2020, dari Komunikasi Dakwah Jamaah TablighU SaepulohSaepuloh, U. 2009. Model Komunikasi Dakwah Jamaah Tabligh. Ilmu Dakwah, 4. Saerozi. 2013. Ilmu Dakwah. Penerbit Ilmu Dakwah. Rajawali PersW SaputraSaputra, W. 2012. Pengantar Ilmu Dakwah. Rajawali Pers.
Titahbaginda, Al-Quran adalah sumber rujukan yang menjadi penunjuk arah dalam kehidupan serta berupaya menangani pelbagai ancaman dan cabaran terhadap akhlak serta moral masyarakat kini. \/p>\n \u201cJika golongan berkenaan dibiarkan ia boleh meruntuhkan akidah, meruntuhkan institusi keluarga serta menimbulkan perpecahan dalam kalangan umat Islam. Abstract ; Persoalan yang dihadapi sekarang adalah tantangan dakwah yang semakin hebat, baik yang bersifat internal mau¬pun eksternal. Tantangan itu muncul dalam berbagai bentuk kegiatan masyarakat modern, seperti perilaku dalam menda¬patkan hiburan enter¬tain¬ment, kepariwisataan dan seni dalam arti luas, yang semakin membuka peluang munculnya kerawanan moral dan etika. Pembangunan di bidang fisik itu tentu saja membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat seperti berbagai kemudahan-kemudahan dalam mengakses setiap kebutuhan. Namun demikian berbagai permasalahan umat juga mengalami perkembangan yang luar biasa baik dari kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini disebabkan karena pembangunan mental spritual tidak mendapatkan porsi yang seimbang dengan pembangunan pisik yang justru merupakan hakekat dari pembangunan itu sendiri. Sebagai makhluk yang sempurna maka manusia dilengkapi dengan suatu tabiat yang berbentuk dua kekuatan yaitu amarah dan syahwat keinginan. Dua kekuatan inilah yang menentukan akhlak dan sifat manusia. sikap mental materialistik, agama akan kehilangan daya tariknya karena agama tidak memberikan keuntungan material apapun bagi manusia. Itulah sebabnya beberapa ilmuwan sosial meramalkan bahwa semakin modern suatu masyarakat, semakin tersingkir pula agama dari kehidupan sosial masyarakat itu. Tidak ada agama yang bisa diharapkan akan bertahan lama jika berdasarkan kepercayaannya kepada asumsi-asumsi yang secara ilmiah jelas salah. Inilah problematika dakwah kita masa kini. Oleh sebab itu semuanya harus dikelola dengan manajemen dakwah yang profesional oleh tenaga-tenaga dakwah yang berdedikasi tinggi, mau berkorban dan ikhlas beramal. Untuk mengubah wajah umat Islam yang suram diperlukan dakwah islamiyah untuk menyembuhkan penyakit dalam tubuh umat Islam. Kata KunciDakwah, Problematika Umat, Aqidah, Moral, Individualisme, Materialisme Problems faced today are increasingly great da'wa challenge, both internal or external. The challenge comes in many forms of modern society activities, such as behavior in getting entertainment , tourism and the arts in a broad sense, which raises the possibility of moral and ethical vulnerability emergence. Development in the physical plane of course a positive impact on people's lives as a variety of easiness in accessing every need. However, various problems people are also experiencing tremendous growth both in quality and quantity. This is because the mental development spritual not get equal proportion to the physical development which is precisely the nature of the development itself. As a human being perfect it is equipped with a character in the form of two powers, namely anger and lust desire. Two forces that determine the character and human nature. materialistic mentality, religion will lose its appeal because religion does not provide any material benefit for humans. That is why some social scientists predict that the more modern a society, the religious also eliminated from the social life of the community. No religion can be expected to last long if it is based on his belief in assumptions scientifically clearly wrong. This is the problem of our mission today. Therefore, everything must be managed by a professional management da'wa, da'wa personnel dedicated, willing to sacrifice and sincere charity. To change the face of the grim Muslims needed da'wa Islamiyah to cure the disease in the body of Muslims. KeywordsDa'wah, Public Problems, Aqida, Moral, Individualism, Materialistic Berbagaimacam penyakit sosial yang terdapat ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Hampir semuai penyakit masyarakat tersebut tidak ada yang bernilai positif. Sebagaimana disebutkan dalam tabel di atas, menyatakan 530 responden atau 80 persen menyatakan sangat tidak baik. Dan yang menyatakan tidak baik sebanyak 133 responden atau 20 persen. Ibrahim 7) Demikian materi khutbah Jumat tentang bahaya sifat iri dan dengki yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah subhanahu wata'ala melindungi kita semua dari sifat buruk ini. Jangan lupa untuk terus berdoa agar Allah menjadikan kita sebagai orang-orang beriman yang memiliki hati yang suci bersih dari penyakit-penyakitnya. Tantangandan Peluang Dakwah Masa Kini. Berdakwah, seperti yang kita ketahui merupakan kewajiban setiap umat muslim. Dakwah bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, tidak ada batasannya. Berbeda dengan khotbah yang terbatas pada mimbar dan dalam waktu-waktu tertentu seperti shalat Jum'at dan shalat hari raya.
View09 - Penyakit-penyakit Umat dalam Da' JAMBI 12 at Jambi University. PENYAKIT-PENYAKIT UMAT DALAM BERDAKWAH I. Tujuan Umum Madah • Terbentuknya pribadi muslim yang memiliki keahlian
6KDy4Y.
  • q9s731ypcb.pages.dev/477
  • q9s731ypcb.pages.dev/155
  • q9s731ypcb.pages.dev/272
  • q9s731ypcb.pages.dev/113
  • q9s731ypcb.pages.dev/252
  • q9s731ypcb.pages.dev/26
  • q9s731ypcb.pages.dev/268
  • q9s731ypcb.pages.dev/122
  • penyakit umat dalam dakwah